book

30 Hari Bersama Bluebell

Di awal Tahun 2019 seperti biasa kita semua punya resolusi yang idealis. Nabung, Baca buku, bisa ini, bisa itu, pergi kesana-kemari, dan lainnya. Well, kali ini aq sedang bersemangat mau baca buku dan menulis. Menulis aq realisasikan dengan komitmen merawat personal blog minimal 2 published post dalam sebulan. Untuk niat membaca buku, ini yang lumayan sulit. Menulis tidak seberapa sulit mengingat aq sudah mulai nge-draft sejak tahun 2018. Tapi baca buku, terakhir kulakukan adalah sebelum pacaran sama suami (oh yesss laki-laki itu bikin aq ga punya me time lagi).

Sebagai “pemula” dalam membaca, aq harus pilih buku yang ringan, menghibur namun non fiksi. Yang pasti bukan Novel, komik apalagi politik. Keliling gramedia ternyata asik klo kita punya niat beli buku dan baca buku. Setelah hampir satu jam lebih, kakiku tertahan di bagian buku yang berisi tentang travelling, karena ringan-menghibur-nonfiksi, pas dengan keinginanku. Akhirnya mataku tertuju pada satu buku tentang road trip di United Kingdom. uwoooo.. hatiku langsung bahagia rasanya.

30 Hari Bersama Bluebell

United Kingdom adalah negara impian nomor satu yang pengen aq datangi suatu saat nanti kalo udah punya duit. Dan road trip adalah ide yang paling brilliant untuk menikmati perjalanan. Harapanku dengan membaca buku ini adalah aq bisa menikmati UK dari sudut pandang seorang indonesia (Ukirsari) yang jalan bersama seorang asli UK (Nick). Sebuah paduan yang sempurna karena buku ini ditulis dengan bahasa Indonesia oleh orang Indonesia namun perjalanan dilakukan bersama Penduduk asli UK. Di Blog post kali ini aq akan mereview buku sesuai pengalaman pribadi tanpa berniat spoiler.

Buku ini bercerita tentang perjalanan road trip Arie (Ukirsari-penulis) dan kekasihnya Nick yang mau mem-pensiun-kan mobil kesayangan mereka karena mobil itu sudah tua dan biaya pemeliharaan nya semakin membengkak. Perjalanan yang mereka lakukan tidak tanggung-tanggung, yaitu 10.000 mil melintasi melintasi Inggris, Skotlandia, Wales hingga Irlandia Utara selama 30 hari. Uugh aq iri sekali.

Mulai membaca buku ini di bab awal aq masih belum bisa menikmatinya. Tidak bermaksud menyalahkan penulis karena mungkin ini disebabkan beberapa faktor. Aq yang baru mulai membaca lagi sehingga perlu lebih melatih fokus, ditambah anak umur 3 tahun yang penasaran pada kebiasaan baru mami nya. Atau karena ekspektasi ku pada sebuah buku yang deskriptif tentang pemandangan alam, tips dan trik merencanakan road trip yang tidak terpuaskan. Atau karena buku ini menceritakan banyak sekali sejarah Inggris yang aq tidak tertarik sama sekali (pada awalnya). Ditambah lagi buku ini tidak memanjakan pembaca dengan foto ciamik nan berwarna tentang pemandangan dan perjalanan mereka.

Aku sempat mengalami demotivasi sehingga tidak membaca buku ini sekitar 2 minggu simply karena ekspektasi ku akan sebuah buku yang “menghibur” tidak ku dapatkan. Namun, aq sadar bahwa kemalasan ini harus ku lawan, aq harus menyelesaikan buku ini supaya aq bisa beli buku baru, aq harus menyelesaikan buku ini karena sebenarnya aq masih penasaran sama perjalanan road trip 30 hari mereka.

Agar kekecewaan ku tidak berlanjut, maka aq cari strategi untuk dapat menikmati buku ini. Ku mulai mengikuti cerita perjalanan mereka sambil buka google maps, aq membayangkan perjalanan yang mereka lewati itu mana aja, sehingga aq merasa ikut berjalan dengan mereka.

Lewat bantuan google, Aku cek foto kota, restoran, lukisan, tempat wisata dan apapun yang mereka ceritakan sehingga mata ku terpuaskan menikmati apa yang mereka coba gambarkan dalam buku. Aq coba mengulangi membaca cerita sejarah yang mereka tulis jika memang aq merasa sulit mencerna nya.

Well, jika kita berusaha, tidak ada yang tidak mungkin, kita akan mendapatkan hasilnya. Pada bab-bab selanjutnya membaca buku ini, aq menikmatinya, mulai memahami dan aq mulai melihat bahwa buku ini sangat kaya akan cerita dan informasi tentang budaya setempat, sejarah sebuah kota, pengalaman personal mereka sebagai couple, informasi tentang bahasa lokal, kuliner, tujuan wisata anti-mainstream dan banyak lagi. Penulis terlihat kaya akan wawasan dan berusaha sebaik mungkin menyajikan Informasi yang komprehensif tentang United Kingdom. Buku ini sangat cocok dibaca jika kita ingin mengenal United Kingdom dengan cara yang ringan dan disajikan dengan bahasa ibu kita, Indonesia

Aku baru tau bahwa Inggris memfasilitasi jika ada orang yang mau memberikan tanda kenangan untuk orang terkasih yang sudah meninggal dengan memasang kursi kayu di tempat umum. Aq baru tau kenapa ada kota negara lain yang punya nama sama seperti di Inggris. Aq baru tau siapa itu Ktut Tantri dan HOK Tanzil. Dan masih banyak lagi “aq baru tau” lainnya. Seperti ada pepatah “semakin belajar kita semakin merasa bodoh”. Yes, aq baru tau bahwa aq kurang pintar.. wkwkwk

Arie dan Nick merupakan traveller yang punya jam terbang tinggi, jadi jangan ragu akan pengalaman mereka memilih tempat untuk dikunjungi. Di buku ini juga kadang kita bisa dapat bonus cerita saat mereka menjelajah negara lain.

Buku ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena ternyata bukan hanya cerita tentang travelling yang disajikan. Jelas saja sejak kecil penulis sudah rajin dan suka membaca. Pekerjaan nya pun memang sebagai travel writer, columnist Formula One(F1) dan translator. Jadi bayangkan bagaimana kompleksnya isi buku ini sambil kita juga tetap dibuat penasaran.

Dari buku ini aq sadar bahwa jika aq ingin tulisanku berkualitas, maka harus lebih banyak membaca buku. So, what’s next?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *