book

4 Pesan Penting dari Outliers by Malcolm Gladwell

Karena sudah lama sekali gak baca buku, aq seperti bayi yang baru mulai dikasi MPASI. Maunya bacaan ringan yang ga terlalu menghabiskan energi saat membacanya. Satu tahun aku seperti itu, memilih topik yang ramah pada diri sendiri. Kaizen by Sarah harvey, 3 Buku Minimalism by The Minimalists dan Sisu by Joanna Nylund adalah buku yang berhasil membuatku tertarik lagi membaca. Berhari-hari memilih buku apa yang mau dibeli, topik apa yang mau didalami dan “seberat” apa buku yang bisa dicerna saat ini, akhirnya berlabuhlah pada Outliers by Malcolm Gladwell.

Biasanya aku tidak tertarik pada cerita tentang kesuksesan, biografi orang sukses dan cara-cara agar sukses. Aku hanya tidak mau tau aja, takut ngiri karena tidak bisa punya kesempatan yang sama dengan mereka (buruk sekali aku ini memang hahaha). Apalagi setelah baca tiga buku tentang minimalism, defenisi sukses berubah total dalam mindset ku. Tapi buku ini bestseller internasional, direkomendasikan oleh Bill Gates dan Mark Zuckerberg, lalu ditulis oleh seorang reporter, yang walaupun review goodreads nya nggak semua bilang bagus, tapi aku rasa aku siap.

Buku ini tidak hanya menyuguhkan cerita, menyajikan data dan menyampaikan opini tapi juga berhasil membuatku berpikir. Ya.. Berpikir, Mencerna. Lalu aku sadar bahwa aku lulus MPASI. Berikut buah pikiran yang timbul setelah membaca buku ini sampai selesai.

Rendah Hati lah

Penulis membawa kisah tentang orang sukses, secara pribadi, kelompok, berdasarkan tahun dan bulan lahir dan bahkan ras nya. Buku ini memang menceritakan apa saja yang mereka lakukan untuk menjadi sukses, tapi fokusnya bukan disitu. Mereka semua memiliki kesempatan untuk melakukan keahlian mereka. Ada momen yang mampu mereka manfaatkan dengan baik, ada orang-orang yang menolong mereka, ada pula orang-orang yang tidak menolong mereka namun hal itu justru menjadikan mereka lebih baik lagi.

Buku ini berhasil membuatku berpikir tentang jalan hidupku sendiri, banyak keluarga, teman dan rekan kerja yang menolongku hingga saat ini, ada juga yg tidak menolong. Tapi aku percaya, orang bisa merencanakan kecelakan tapi Tuhan bisa mengubahnya untuk kebaikan kita. Jadi ga perlu lah sombong karena semua pencapaian ini, semua bukan hasil usaha sendiri.

Successful people don’t do it alone. Where they come from matters. They’re products of particular places and environtments.

Help Others

Kisah kesuksesan yang dipaparkan disini membawa cerita sisi lain : ketidaksuksesan orang lain. Ada orang-orang yang tidak sesukses orang lain karena tidak mendapatkan kesempatan yang sama hanya karena lahir di penghujung tahun (cerita tentang hockey players). Belum lagi cerita penulis dan keluarga nya tentang bagaimana warna kulit dan gender menjadi alasan seseorang memiliki pendidikan atau tidak.

Success is not a random act. It arises out of a predictable and powerful set of circumstances and opportunities.

Sebisa mungkin, bantu lah orang disekitar kita mendapatkan kesempatan yang diperlukan, jika kita mampu atau jika itu memang dalam kewenangan kita. Kita tidak tahu seberapa besar dampaknya, mungkin bisa sampai ke generasi yang akan datang.

To build a better world, we need to replace the patchwork of lucky breaks and arbitrary advantage that today determine success with a society that provides opportunities for all.

Ketidakberuntungan itu bukan apa-apa

Ada pandangan bahwa kenapa orang Yahudi itu kaya, pintar dan seolah-olah sukses hidupnya. Buku ini menceritakan bagaimana tidak beruntungnya orang yahudi. Mereka terpaksa pergi dari tanah mereka sendiri, dikejar-kejar untuk dibantai oleh rezim tertentu, tidak diijinkan memiliki rumah dan tanah di negara yang mereka datangi, sampai ditolak bekerja di suatu tempat hanya karena mereka keturunan Yahudi. Bayangkan begitu dibenci dan ditolak oleh orang lain karena kita lahir dari bangsa apa, bukan karena kesalahan yang kita perbuat. Tapi dari ketidakberuntungan itu, mereka bangkit dan berusaha sekuat tenaga untuk bisa hidup disuatu tempat. Mereka saling mendukung satu sama lain.

Diceritakan Joe Flom yang karena ditolak bekerja di suatu firma hukum, mengerjakan kasus bisnis tertentu selama 20 tahun, kasus yang ditolak oleh Firma hukum besar karena katanya “ribet”. Pada suatu waktu, iklim ekonomi mendukung dan kasus bisnis berjamur dengan nilai yang fantastis. Kita bisa tebak apa yang terjadi, mereka percaya pada Joe flom dan rekan2 Yahudi nya untuk mengurus kasus mereka karena mereka sangat ahli pada kasus ini. Bagaimana tidak ahli kalau selama bertahun-tahun mereka selalu berhadapan dengan kasus serupa (merger & akuisisi).

Berjuanglah menyelesaikan pekerjaan yang ada di hadapan kita. Akan ada waktunya saat kita menjadi ahli pada hal yang ada dihadapan kita lalu kesempatan diberikan pada kita. Joe Flom punya dua puluh tahun my friends! Jangan menyerah.

Power Distance

Bagian ini aku paham sungguh. Enam tahun hidup di atmosfir senioritas, secara sadar aku tahu bahwa aku punya hal ini : Power Distance Index (PDI) yang tinggi. Aku cenderung over respect pada senior dan atasan, sesebal apapun pada nya, aku bisa tersenyum manis disertai mata yang berbinar tulus (kadang).

Penulis menceritakan bagaimana kecelakaan pesawat ada kaitannya dengan PDI suatu negara. Bagaimana sikap dan cara percakapan kapten dengan first officer dan engineer juga dengan air traffic controller ada kaitannya dengan jumlah kecelakaan pesawat. Tidak akan kujelaskan lebih lanjut, sebaiknya baca saja bukunya.

Kadang pada kehidupan sehari-hari, untuk sebagian besar kita yang punya budaya ini atau dibesarkan dengan budaya ini, cenderung tidak berani mengatakan suatu hal yang sifatnya important & urgent jika itu berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab senior, atasan atau yang berkuasa. Kita cenderung takut menyampaikan disagreement dengan atasan kita. Kalaupun terpaksa, kita menyampaikannya dengan bahasa penuh dengan ambiguitas.

Budaya ini tidak salah, hanya saja harus dipahami dan diaplikasikan di waktu dan tempat yang tepat. Orang muda pun suatu saat akan tua dan pasti menginginkan rasa hormat yang sepantasnya (tidak berlebihan, seharusnya). Miliki rasa hormat, bukan rasa takut. Orang yang berkuasa juga seharusnya bersikap tidak terlalu menakutkan, ini tidak baik bagi organisasi. Apalagi jika berususan dengan keselamatan jiwa orang lain.
Buku ini menceritakan Industri penerbangan di Korea selatan (Korean Airlines) pada jaman dulu. Mereka belajar, mendengarkan masukan dan hasil penelitian. Hasilnya selama 20 tahun belakangan ini, tidak ada kecelakaan yang fatal.

High-power distance communication works only when the listener is capable of paying close attention, and it works only if two parties in a conversation have the luxury of time, in order to unwind each other’s meaning. It doesn’t work in an airplane cockpit on a stormy night with an exhausted pilot trying to land at an airport with a broken glide scope.

Masih banyak hal yang bisa aku ceritakan, tapi tujuanku adalah membuat kalian ingin baca bukunya, bukan puas baca review nya. Buku ini dijual secara internasional tahun 2008, aku menyesal tidak membacanya sejak muda dulu. Tapi aku bersyukur bisa baca ini sekarang, aku punya anak yang bisa diajar untuk bekal masa depannya. Lagi pula aku belum terlalu tua untuk duduk manis hanya menerima keadaan.

P.S. : buku ini menjelaskan bahwa peran keluarga sangat penting bagi kesuksesan anak. Ini aku ceritain di lain kesempatan ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *