book

Rahasia “Disiplin” Orang Jepang, Kaizen by Sarah Harvey

Aku ingat alasan dibalik keputusan membeli buku ini yang tidak lain tidak bukan adalah karena merasa hidupku tidak teratur sama sekali. Setiap pagi berdoa agar hari ini lebih baik dari hari kemarin, tapi ternyata begitu malam tiba aq bingung apa nya yang lebih baik. Buku ini aq beli online di official store Books and Beyond, tanpa tau seperti apa bentuk sesungguhnya, aq hanya tertarik pada judul dan temanya, ternyata buku ini tidak mengecewakan sama sekali.

Buku ini dicetak di kertas yang lebih tebal dari buku kebanyakan, size yang ringkas memberi kesan bahwa ini buku bacaan ringan yang terasa santai saat dibaca di coffee shop atau pun sambil rebahan di rumah. Sistematis dengan pemisahan sub-bab yang jelas, ditambah penyisipan gambar berwarna yang menenangkan bertemakan Jepang.

Sungguh pada awalnya aku merasa skeptis tentang isi buku ini, bukankah sudah jelas apa itu Kaizen dari tagline di sampul buku “small steps to big goals”. Secara pribadi, baru kutahu kalau aku gak rugi setelah sampai di halaman ke 17, karena saat itu aku mulai pegang fineliner untuk menggarisbawahi bagian yang aq rasa penting untuk diingat. Highlight pertama yang kudapat adalah “look for marginal gains in each area and celebrate small successes”. Kalimat itu adalah jawaban dari kenapa aku tertarik mempelajari Kaizen. Di awal paragraf aq menulis bahwa tiap malam aku merasa “apa nya yang lebih baik”, jelas saja aq gagal menyadari kesuksesan kecil, karena aku hanya fokus pada kesuksesan besar. Saat kita menghargai kesuksesan kecil, kita akan berterima kasih pada diri sendiri dan ini akan memotivasi kita untuk melakukannya lagi besok. Kesuksesan kecil seperti langsung cuci piring setelah dipakai, meletakkan tas pada tempatnya, baca buku dua halaman hari ini, atau tidak buka instagram seharian.

“You should find that this small feeling of success is contagious and will spur you on to achieve even more”

Dikatakan juga bahwa saat kita memutuskan untuk melakukan langkah kecil untuk dijadikan kebiasaan baru, jika hal itu tidak terlaksana maka kita tidak perlu merasa terlalu kecewa dan menyalahkan diri sendiri.

Otak kita memiliki satu bagian yang disebut Amygdala yang secara sederhana disebutkan berfungsi sebagai “The alarm bell of the brain” yang merespon “fear & anger”. Saat kita melalukan perubahan dalam skala besar, otak kita seolah-olah merasa takut apakah akan berhasil atau tidak, apa yang terjadi kemudian, bagaimana jika gagal atau pemikiran lain. Tapi jika kita melakukan perubahan kebiasaan skala kecil, maka amygdala kita akan terkecoh seakan-akan tidak ada perubahan apapun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Langkah paling awal yang harus dilakukan adalah menyadari adanya masalah, entah itu di area kesehatan, keuangan, hubungan, pekerjaan atau apapun itu. Prinsip kalau gak ada masalah ga perlu berubah memang lah sangat manusiawi. Anggap saja ini sebagai motivasi.

Kaizen starts with a problem, or more precisely, with the recognition that a problem exists – Mr. Masaaki Imai

Penulis sungguh berniat membantu para pembacanya dengan memberikan langkah-langkah praktis yang dapat kita lakukan di beberapa area kehidupan seperti yang akan saya rangkum berikut ini

HEALTH
Kita disarankan untuk mencoba beberapa aktifitas baru dan menemukan kegiatan yang cocok buat kita. Menemukan komunitas atau teman terdekat untuk bersama-sama melakukan aktifitas olahraga. Disebutkan bahwa gardening juga bisa dianggap sebuah aktifitas berolahraga, saat kita mencabut rumput gerakannya mengaktifkan otot bisep.

Yang menjadi catatan buat saya adalah bahwa kita jangan fokus pada mengurangi berat badan, karena menurunkan berat badan tidak bisa dicapai dengan “langkah kecil dalam waktu dekat”. Kita bisa terlanjur bosan karena kelamaan tidak mencapai target, lalu kita akhirnya menyerah, padahal target kita sebenarnya adalah membangun kebiasaan. Karena kalau kita sudah punya kebiasaan bergerak dan berolahraga, berat badan akan proporsional dengan sendirinya.

Daripada fokus pada berat badan, tanyakan ini pada dirimu sendiri setelah berolahraga : apakah kita punya kualitas tidur lebih baik, apakah kita merasa lebih kuat, apakah kita merasa lebih berenergi, apakah kita merasa lebih ingin makan makanan sehat, dan hal lainnya yang bisa kita pikirkan.

Pola makan juga memegang peranan penting dalam aspek kesehatan kita. Kita diingatkan untuk minum air yang cukup dengan contoh praktikal menggunakan aplikasi yang mengingatkan kita untuk minum, tentukan untuk minum setiap bangun tidur dan/atau sehabis dari kamar madi dan/atau beli botol menarik sehingga kita semangat bawa air kemana-mana. Penulis memotivasi kita untuk memperhatikan pola makan sehat dengan mengajak untuk makan “less meat” atau vegetarian/vegan, tentukan satu hari dalam seminggu dimana kita tidak makan daging, menambahkan sayur lebih banyak pada masakan kita, mengurangi konsumsi gula, mengontrol porsi makan dengan mengganti ukuran piring kita lebih kecil.

Satu hal yang ingin saya jelaskan lebih dalam adalah terkait saran untuk “mindful eating”. Saat kita makan dan berkonsentrasi pada kegiatan lain, kita tidak dapat fokus pada apa yang tubuh kita inginkan dan butuhkan. Jadi seharusnya saat kita makan, kita bisa menikmati makanan yang dihadapan kita, sambil berfikir apakah makanan ini baik buat tubuh kita, apakah makanan ini adalah cara kita menghargai dan mencitai tubuh kita. Saat kita membiasakan diri melakukan itu, maka kita akan cenderung memilih makanan yang sehat dan bermanfaat bagi tubuh dan jiwa. Jadi cobalah untuk tidak makan sambil nonton, sambil baca buku atau majalah, atau sambil liat handphone. Sadar lah saat memasukkan makanan ke dalam mulutmu.

Perhatikan bagaimana cara orang Jepang makan, alat makan yang indah, menciptakan sushi dengan detil, dan bahkan untuk acara minum teh saja mereka se-niat itu.

WORK
Ini buat kita yang bekerja, entah office hour atau freelancer. Kita harus melakukan sesuatu agar bisa menikmati masa berkerja, karena saat kita menikmatinya maka produktifitas kita akan lebih baik. Beberapa saran adalah dengan menciptakan work station yang kita suka, kurangi benda tidak penting di work station kita dan dokumen yang tidak urgent di atas meja, tambahkan benda sentimental dan atur agar kita punya pencahayaan yang lebih baik. Saat istirahat, coba untuk keluar dari work station untuk ngobrol dengan teman kerja, gerakkan tubuh atau sekedar menghirup udara segar. Buku ini menjelaskan bagaimana kita bisa melakukan 5 minutes meditation di waktu istirahat kerja.

Saran khusus untuk freelancer atau full time worker yang sedang WFH (Work From Home), temukan dan ciptakan “work station” di rumahmu. Pindah dari tempat tidur sehingga dirimu sadar bahwa kamu sedang bekerja. Sadari kapan waktu terbaikmu untuk bekerja dan pergunakan sebaik-baiknya. Atau jika terikat dengan waktu kerja tertentu, maka atur segala sesuatu agar kita siap (sudah makan, mandi dan sebisa mungkin distraction sudah diatasi). Ya kita harus berusaha, karena kita membutuhkan penghasilan untuk membiayai hidup kita. Sadari itu.

RELATIONSHIP

Ada konsep yang disebut Uchi-Soto, yang artinya Uchi = rumah/inside dan Soto = Outside, ini adalah tentang memisahkan bagaimana berbicara dan berperilaku dengan dua kelompok in-groups dan out-groups. In-groups adalah keluarga, teman dekat, rekan kerja ; lalu out-groups seperti klien, pelanggan, pengunjung dan gaijin (bukan orang Jepang asli). Saat berbicara dengan In-groups mereka akan “humbled” (rendah hati), dan dengan out-group “honored” (menghargai).  Aq bisa melihat bagaimana dampaknya dalam bersosialisasi dan profesionalisme jika hal ini diterapkan.

Highlight nya menurutku disini adalah hubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Bagaimana kita mempraktekan self-love adalah hal yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum bisa membina hubungan yang baik dengan orang lain. Inti dari self-love adalah menerima bahwa diri kita tidak selalu sempurna dan mengerti bahwa ada kesempatan bagi kita untuk menjadi lebih baik. Orang Jepang punya istilah Shinshin Ichiyo yang artinya  “body and mind as one”.

Treat your body like a friend. Rather than feeling like you are battling against your body, try thinking of it as a friend you have to look after and who supports you.

Kalimat itu sungguh membuatku mensyukuri bentuk tubuh saat ini, dan berusaha mencintainya dengan pola hidup dan pola makan yang baik. Melihat ke cermin lalu tersenyum karena bagaimanapun kelihatannya, itu tidak penting karena my body is my friend. Dia mendukungku dan bersamaku melalui saat susah dan senang, dan karena aku mau terus bersamanya sampai selamanya, maka aku harus menjaganya.

Pemikiran seperti itu jika sudah berhasil ditanamkan untuk diri sendiri, maka pemikiran yang sama bisa diterapkan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Jika kita sudah memilih pasangan atau teman dan bergaul erat, maka menerima orang lain apa adanya adalah hal yang penting. Berhati-hatilah dengan konsep pilih temanmu yang lebih baik dari mu agar kamu bisa menjadi lebih baik. Jadi maksudnya kalau di saat tertentu dia sedang dalam kondisi tidak baik misalnya bangkrut, sakit atau salah mengambil keputusan lalu kita tinggalkan begitu saja?! Pikirkanlah Pertemanan seperti apa yang kita harapkan sebenarnya. Ego seperti apa yang kita bentuk. Tidak heran kalau disaat susah kita sering merasa sendirian, kita sendiri mungkin hanya ingin berteman dengan orang yang “lebih baik”, sehingga minta bantuan aja gengsi.

Banyak hal detil yang dijelaskan dalam buku ini, tidak harus diterapkan sekaligus. Tapi berubah sedikit ke arah lebih baik untuk jangka waktu yang lama akan membuat perubahan yang besar dalam hidup kita. Mungkin karena terlalu kecil sampai kita tidak menyadarinya, tapi 3 atau 5 tahun kemudian kita dan orang terkasih kita akan mensyukurinya.

Terakhir, di awal paragraf aku bilang kalau aq merasa hidupku tidak teratur, atau bahasa kerennya adalah kurang disiplin. Mengapa disiplin itu susah?! menurutku karena kata itu terkesan keras dan sulit. Hidup 6 tahun di asrama dengan penekanan hidup disiplin membuatku muak dan tertanam dipikiran bahwa disiplin itu berat. Belum lagi kalau waktu kecil orang tua sering marah-marah karena kita tidak disiplin. Emosi yang terbawa saat mendengar kata disiplin tidaklah positif sama sekali. Tapi setelah baca buku ini, aku tidak peduli lagi dengan kata disiplin, aku lebih memilih membentuk kebiasaan. Small steps, celebrate and repeat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *