Learn, Love

Merencanakan Parenting

Kita semua wajib tau bahwa tidak ada parenting yang paling benar di dunia ini. Setiap parents bisa punya gaya mendidik masing-masing, tapi dengan harapan memberi hasil yang baik dan benar pada anak. Nah, pertanyaannya adalah hasil apa yang kita akan capai dalam mendidik anak? apakah kita mau anak sehat bugar gak pernah sakit dengan bentuk tubuh proporsional atau kita mau agar anak pintar jenius hafal setiap seri ensiklopedia atau mau keduanya?! Boleh.. apapun itu, rencanakanlah parentingmu.

Kali ini aq dan suami beruntung bisa ikut kelas Parenting yang diselenggarakan oleh JPCC (Jakarta Praise Community Church). Pengajarnya adalah Ps. Jusar Badudu dan istrinya Mara Badudu. Banyak sekali yang saya dapat dan saya catat, tapi hanya beberapa yang bisa saya rangkum disini (plus pengertian pribadi yaa). Kalo mau lengkap, mending ikut kelasnya deh.. (*untuk kalangan sendiri)

Part 1   Memulai dengan Benar

1.1  Healthy Family

Mendidik anak dimulai dari hubungan parents yang solid. Dalam kisah tentang penciptaan manusia, keutuhan dimulai sejak Hawa diciptakan untuk menjadi penolong Adam. Jadi sorry to say, keluarga sudah dimulai sejak menikah. Children do not make you a family, but they expand the family.

Penting untuk parents menunjukkan kasih secara visual sehingga anak melihat hubungan parents yang kuat. Rencanakan your time as husband and wife, Parents. Kencan berdua tinggalkan anak di rumah, bawa oleh-oleh spesial buat pasangan jika pulang dari luar kota. Tunjukkan bahwa anak bukan yang terpenting, salah satunya jika parents sedang ngobrol lalu anak mengganggu, maka sampaikan bahwa parents sedang berbicara serius, nanti gantian.

Child-centered parenting too often produces a “ME-ism”  attitude. Healthy Families produces children with “WE-ism” attitude

Anak dengan Me-ism attitude akan sulit bersosialisasi karena menurutnya  “i am the center of the universe”. Cari perhatian berlebihan, sakit hati mendalam saat tertolak, sulit menerima pendapat orang lain, mementingkan diri sendiri, dan lain nya. Biarkan anak belajar sejak dini di rumah.

1.2  Non-conflict Time

Prinsip mengajar pada anak yang efektif adalah Repetition (berulang-ulang). Berulang-ulang bukan hanya pada saat anak berbuat salah. Seringnya saat anak berbuat salah, parents merespon dengan kata-kata spontan di depan umum. Contohnya : “ih malu-malu in ya kamu”, “kamu males banget sih”, “emang nakal nih dia, Om”. Parents cenderung me-label anak dan hal ini sungguh tidak membangun. Kita harus menyampaikan pengajaran dengan kata-kata yang dipikirkan dulu. Dan dengan kesibukan parents yang sedemikian rupa, hal ini sungguh sulit. Solusinya ada pada Non-conflict time.

Non-conflict time is when Children are most teachable. Ini adalah masa dimana emosi anak dan parents stabil. Parent bisa memilih kata-kata yang membangun, anak juga bisa menerima kata-kata itu dengan baik.

Contoh : “Besok kita mau main dirumah nenek, nanti sapa nenek ya, liat matanya, trus salim”, “besok kita mau main sama teman-teman, main nya sama-sama ya, gantian”. Boleh latihan dengan praktek. Nah besoknya sebelum berangkat ingetin lagi, udah mau nyampe lokasi ingetin lagi. Kalo bisa ingetin seminggu sebelum acara, tiap hari, berulang-ulang. Rencanakan pelajaran apa yang anak harus tau sebelum kegiatan berlangsung.

Trus gimana kalo “nakal-nya on the spot” dan parents belum atau lupa ngajarin. Tahan diri, ntar dirumah diajarin dilengkapi dengan konsekuensi. (kalo bisa.. hahaha paling gemes emang, aku masih sering gagal nih). Untuk konsekuensi, baiknya tidak diberikan klo emang parents belum mengajari sebelumnya. Biar fair donk..

1.3  Anak Tunduk pada Otoritas Parents

Mendidik anak haruslah keinginan dari kedua orang tua, dengan satu visi dan misi, dengan satu bayangan karakter seperti apa yang anak harus capai.

Sebagian besar parents selalu menjaga fisik anak dengan luar biasa teratur, apa menu hari ini, apa vitaminnya, istirahat jam berapa, bagaimana kebersihan pakaiannya. Pastinya kita mau agar body anak sehat dan bertumbuh dengan baik. Tapi seberapa besar kita memperhatikan perkembangan spirit – nya?!

Dalam kelas ini dijelaskan bahwa pembentukan karakter paling signifikan ada pada usia 0-9 tahun. Ketaatan adalah karakter yang penting. Anak harus taat pada Tuhan, namun harus dipelajari sejak dini dan dimulai dengan taat pada parents.

And Jesus matured, growing up in both body and spirit, blessed by God and people. (Lukas 2:52)

Bagaimanakah membuat Spirit anak growing up?! dijelaskan di ayat sebelumnya dengan kata kunci : continually submissive and obedient to parents.

Untuk anak bisa taat, anak perlu clarity (kejelasan) akan aturan dan batasan. Parents harus eksekusi dengan tepat dan konsisten. Parents harus kompak dan sepakat.

Artikel ini hanya aq fokuskan pada anak usia 0-9 tahun ya, diajarin sih sampe anak usia 18 tahun itu gimana pola asuhnya, tapi ya klo mau lengkap mending ikut kelasnya.

Jadi di usia anak 0-5 tahun, anak butuh disiplin (bukan dalam arti menghukum). Pola asuh yang berfokus pada “APA”. Utarakan ekspektasi parents pada anak, contoh : “mau tidur, sikat gigi!”. Lakukan dengan konsisten. Tujukkan bahwa otoritas ada pada parents. Pada usia ini penting menanamkan ketaatan, jadi jangan berikan pilihan, tetapkan aturan. Rencanakan apa saja yang anak harus ikuti.

1.4   Membangun Hubungan

Pada usia anak 6-9 tahun, Pola asuh berfokus pada “MENGAPA”. Mulai jelaskan mengapa anak harus melakukan ini dan itu, hubungkan dengan nilai-nilai yang berkaitan. Beri pilihan yang sesuai dengan tingkat penguasaan diri anak. Jelaskan segala konsekuensi atas pilihan yang diberikan. Penting menjelaskan dengan logika dan nalar anak. Parents harus lebih kreatif dan menggali pengetahuan.

Lakukan aktivitas bersama dengan tujuan membangun hubungan lebih dini. Karena saat anak mulai dewasa, keterlibatan parents dalam aktivitas anak akan berkurang. Mulailah hal ini sejak dini, jangan menolak saat diajak main bersama jika parents ada waktu. Rencanakan dan buat jadwal aktivitas bersama, karena pada usia ini anak sudah sekolah, punya kegiatan dan temannya sendiri. Bangun hubungan.

Jika anak sudah tunduk pada otoritas serta punya hubungan yang baik, maka parents dengan mudah menanamkan standar moral dan nilai-nilai lainnya. Menjadikan mereka anak dengan pribadi kuat. Saat anak bergaul di luar, anak bisa ikut arus yang negatif. Tapi di rumah parents bisa arahkan ke jalur yang benar. Hal ini bisa dilakukan jika sebelumnya parents sudah membuat/membangun jalurnya.

Jadi, rencanakan parenting mu Parents!

2 thoughts on “Merencanakan Parenting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *